Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun
Disusun guna memenuhi tugas :
Mata kuliah : Studi Tokoh Pendidikan Islam
Dosen pengampu : Moch. Iskarim, M.S.I
Disusun oleh:
Ani Musiani
2021 111 181
PRODI PAI
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2014
BAB I
PENDAHULUAN
Jika kita berbicara tentang Ibnu Khaldun, beliau adalah
seorang sejarahwan sosiologi yang banyak dikagumi oleh kalangan intelektual
yang cinta akan ilmu pengetahuan baik dunia bagian Timur maupun Barat. Hal ini
disebabkan pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun yang banyak tertuang dalam buku
karangannya Muqaddimah, buku pengantar sejarah yang sangat terkenal dan
fenomenal. Dari masa Ibnu Khaldun sampai pada saat ini pemikiran beliau masih
sangat relevan digunakan.
Dalam buku Muqaddimah ini selain memperkenalkan kepada kita
tentang pribadi Ibnu Khaldun, pemikiran tentang sosial, sarjana dan ‘ulama, diplomat
dan politikus dengan pengalaman-pengalaman di istana sampai ke markas militer
di Afrika Utara dan Spanyol, kita juga diperkenalkan tentang pemikiran Ibnu
Khaldun tentang pendidikan.
Walaupun keadaan lingkungan ketika Ibnu Khaldun lahir tidak
stabil, akan tetapi hal itu tidak menjadi penghambat bagi Ibnu Khaldun untuk
terus belajar dengan kerja keras. Sehingga sampai saat ini pemikirannya sangat
populer digunakan golongan intelektual di belahan dunia. Selain Muqadimah,
masih banyak buah karya yang ditulis oleh Ibnu Khaldun. Serta pemikiran
pendidikan Ibnu Khaldun yang masih relevan digunakan sampai saat ini.
Untuk itu makalah ini akan membahas
tentang biografi Ibnu Khaldun, pemikiran Ibnu Khaldun, dan karya-karya Ibnu
Khaldun.
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Biografi Ibnu Khaldun
Nama asli Ibnu
Khaldun adalah Wali ad din Abu Zaid Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Khaldun al
Hadrami al Idhbili, yang disingkat Ibnu Khaldun. Ia lahir di Tunisia pada
tanggal 27 Mei 1332 M/ 1 Ramadhan 732 H dan wafatnya di Kairo 25 Ramadhan/ 19
Maret 1406 M. N.J Dawood menyebutkan sebagai negarawan, ahli hukum, sejarahwan,
dan sarjana.[1]
Ibnu Khaldun
memiliki banyak gelar yang melekat pada namanya sebagai bentuk prestasi dan
kekuasaan yang pernah diraih dan digelutinya, seperti Waliudin, al-Maliki,
al-Rais, al-Hajib, al-Sadrul al-Kabir, al-Faqih al-Jalil, ‘Allamat al-Ummah,
Imam al-Aimmah, Jamlaul al-Islam wal Muslimin.
Nama Ibnu
Khaldun dihubungkan dengan garis kakeknya yang kesembilan yaitu Khalid bin
Usman. Khalid adalah orang pertama yang masuk Andalusia bersama para penakhluk
berkebangsaan Arab. Ia lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun berhubungan dengan
kebiasaan orang Andalusia untuk menambahkan huruf waw dan nun di belakang
nama-nama orang terkemuka sebagai bentuk penghormatan. [2]
Ayahnya bernama
Abu Abdullah Muhammad. Ia berkecimpung dalam bidang politik, kemudian
mengundurkan diri dari bidang politik serta menekuni ilmu pengetahuan dan
kesufian (Abd Al-Rahman Ibn Khaldun, jilid I, t.th.: 10-11). Ia ahli dalam
bahasa dan sastra Arab. Ia meninggal pada 794 H/ 1384 M akibat wabah pes yang
melanda Afrika Utara dengan meninggalkan lima orang anak. Ketika ayahnya
meninggal, Ibn Khaldun baru usia 18 tahun.
Selanjutnya pada 1362 Ibn menyeberang ke Spanyol dan bekerja pada Raja Granada.
Di Granada, ia menjadi utusan raja untuk berunding dengan Pedro (Raja Granada)
dan Raja Castilla di Sevilla. Karena kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari
pula bekerja oleh penguasa Kristen saat itu. Sebagai imblannya, tanah-tanah
bekas milik keluarganya dikembalikan kepadanya. Akan tetapi, dari
tawaran-tawaran yang ada, ia akhirnya memiliki tawaran untuk bekerja sama
dengan Raja Granada. Ke sanalah ia memboyong keluarganya dari Afrika. Ia tidak
lama tinggal di Granada. Ia selanjutnya kembali ke Afrika dan diangkat menjadi
perdana menteri oleh Sultan Aljazair. Ketika antara tahun 1362-1375 terjadi
pergolakan politik, Ibn Khaldun terpaksa mengembara ke Maroko dan Spanyol.
Ibnu Khaldun
adalah seorang yang sejak kecil haus akan ilmu pengetahuan, selalu tidak puas
dengan ilmu yang diperolehnya, sehingga memungkinkan beliau mempunyai banyak
guru. Tidak heran jika beliau termasuk orang yang pandai dalam ilmu Islam,
tidak saja dalam
bidang agama, tetapi juga bidang-bidang umum, seperti sejarah, ekonomi,
sosiologi, antropologi dan lain-lainnya.
Ibnu Khaldun
mengawali pendidikannya dengan membaca al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Sastra, Nahwu
shorof, pada sarjana-sarjana terkenal pada waktu itu. Tunisia pada waktu itu
merupakan pusat ulama dan sastrawan di daerah Maghrib. Dan umur 20 tahun ia
bekerja sebagai sekretaris Sultan Fez di Maroko. Akan tetapi, setelah Tunisia
dan sebagian besar kota-kota di Masyriq dan Maghrib di landa wabah pes yang
dahsyat pada tahun 749 H, mengakibatkan ia tidak dapat melanjutkan studinya.
Bahkan dalam peristiwa tersebut ia kehilangan orang tuanya dan beberapa orang
pendidiknya,
dengan kondisi yang demikian, pada tahun 1362 M ia pindah ke Spanyol.
Di antara pendidiknya
Ibnu Khaldun yang terkenal adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu
Saad Ibn Burall an Asyari. Darinya, ia belajar al-Qur’an dan qiraat
al-sab’ah selain itu, gurunya yang lain adalah Syaikh Abu Abdullah Ibn
al-Arabi al-Hasayiri, Muhammad al-Syawwas al-Zarazli, Ahmad Ibn al- Qassar,
Syaikh Syamsudin Abu Abdullah Muhammad al-Wasdisyasyi (belajar ilmu hadits,
bahasa arab, fiqih), dan Abdullah Muhammad Ibn Abd al-Salam (belajar kitab al-Muwattha’
karya Imam Malik), Muhammad Ibn Sulaiman al-Satti abd al- Muhaimin al-Hadrami
dan Muhammad Ibn Ibrahim al-Abili (belajar ilmu-ilmu pasti, logika, dan seluruh
ilmu/ teknik kebijakan dan pengajaran disamping dua ilmu pokok, al-Qur’an dan
hadits. Diantara sekian banyak pendidik tempat Ibn Khaldun menimba ilmu, ada
dua orang yang dianggap paling berharga terhadapnya, yaitu Syaikh Muhammad Ibn
Ibrahim al-Abili dalam ilmu-ilmu filsafat dan Syaikh Abdil Muhaimin Ibn
al-Hadrami dalam ilmu-ilmu agama dari kedua pendidik tersebut, ia mempelajari
kitab-kitab hadits seperti al-Kutub al sittah dan al- muwattha’). [3]
B.
Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun
1.
Tujuan Pendidikan
Tujuan
pendidikan adalah batas akhir yang dicita-citakan yang akan dicapai melalui
suatu usaha pendidikan (Salim dan Erwin Mahrus, 2006:36). Pengertian tujuan pendidikan
secara lebih luas dikemukakan oleh Syaibani. Menurutnya, yang dimaksud tujuan
pendidikan adalah perubahan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses
pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau
pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar tempat individu itu hidup atau pada
proses pendidikan dan pengajaran, sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai
profesi diantara profesi-profesi asasi masyarakat. Menurut Ibnu Khaldun, tujuan
pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal. Diantara tujuan pendidikan
tersebut adalah sebagai berikut:
a) Tujuan peningkatan pemikiran
Ibn Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan
pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dan
melakukan aktifitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan
keterampilan. Dengan menuntut ilmu dan keterampilan, seseorang akan dapat
meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Disamping itu, melalui potensinya, akan
mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Atas dasar
pemikiran tersebut, tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun adalah peningkatan
kecerdasan manusia dan kemampuannya berfikir. Dengan kemampuan tersebut,
manusia akan dapat meningkatkan pengetahuannya dengan cara memperoleh lebih
banyak warisan pengetahuan pada saat belajar.
b) Tujuan peningkatan kemasyarakatan
Dari segi peningkatan kemasyaraktan, Ibn
khaldun berpendapat bahwa
Ilmu dan pengajaran adalah lumrah bagi
peradaban manusia. Ilmu dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf
hidup masyarakat manusia ke arah yang lebih baik.[4] Semakin
dinamis suatu masyarakat, semakin bertemu dan dinamis pula keterampilan
masyarakat tersebut. Untuk itu manusia, seyogyanya senantiasa berusaha
memperoleh ilmu dan keterampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara
membantunya untuk dapat hidup dengan baik dalam masyarakat yang dinamis dan
berbudaya. Jadi eksistensi pendidikan menurutnya merupakan satu sarana yang dapat membantu individu dan masyarakat
menuju kemajuan dan kecemerlangan.
c) Tujuan pendidikan dari segi kerohanian
Tujuan pendidikan dari segi keruhanian adalah dengan meningkatakan
keruhanian manusia dengan menjalankan praktik ibadat, dzikir, menyendiri, dan
mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah
sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi.[5]
2.
Kurikulum Pendidikan dan Klasifikasi Ilmu
Ibnu Khaldun
membuat klasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-pokok bahasannya bagi peserta
didik. Ia menyusun kurikulum yang sesuai sebagai salah satu sarana untuk mencapai
tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini dilakukan, karena kurikulum dan sistem
pendidikan yang tidak selaras dengan akal dan kejiwaan peserta didik, akan
menjadikan mereka enggan dan malas belajar.[6] Berkenaan dengan hal tersebut, Ibn Khaldun
membagi ilmu menjadi 3 macam, yaitu:
a.
Kelompok ilmu lisan (bahasa): ilmu tentang tata bahasa
(gramatika), sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis
(syair).
b.
Kelompok ilmu naqli: ilmu yang diambil dari kitab suci
dan sunnah Nabi. Ilmu ini
berupa menbaca kitab suci al-Qur’an dan tafsirnya, sanad dan hadist tang
pentashihannya serta istimmbat tentang kaida-kaidah fiqih. Denga ilmu ini
manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada manusia.
Dari al-Qur’an itulah akan didapati ilmu-ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu ushul
fiqih, yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum-hukum Allah itu melalui cara
istimbat.
c.
Kelompok ilmu aqli: ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui berfikir
atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk di
dalam kategori ilmu ini adalah ilmu aqli. Ilmu aqli yaitu ilmu-ilmu yang
diperoleh manusia melalui kemampuan untuk berfikir. Proses peolehan tersebut
dilakukan melaui panca indra dan akal, seperti Ilmu logika ( Mantiq), Ilmu alam,
ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tingkah laku (Behavior)
manusia, termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan).[7]
3.
Sifat-sifat pendidik
Seorang pendidik akan berhasil
dalam tugasnya apabila memiliki sifat-sifat yang mendukung profesionalismenya.
Sifat-sifat tersebut diantaranya :
a.
Pendidik hendaknya lemah lembut, senantiasa menjauhi sifat kasar,
dan menjauhi hukuman yang merusak fisik dan psikis peserta didik, apalagi
terhadap anak-anak kecil.
b.
Pendidik hendaknya menjadikan dirinya sebagai teladan bagi peserta
didik.
c.
Pendidik hendaknya memperhatikan kondisi peserta didik dalam
memberikan pelajaran sehingga metode dan materi dapat disesuaikan secara
profesional
d.
Pendidik hendaknya mengisi waktu luang dengan aktivitas yang
berguna.
e.
Pendidik harus profesional dan mempunyai wawasan yang luas tentang
peserta didik, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan
jiwanya, serta kesiapan untuk menerima pelajaran.[8]
C.
Karya-karya Ibnu Khaldun
Ketenaran
Kaldun sebagai ilmuan dapat dilihat dari jkarya monumentalnya, al-Muqaddimah.
Kitab ini sesungguhnya merupakan pengantar bagi karya universalnya yang
berjudul Kitab al- Ibar wa Diwan al- Mubtada’ wa al- Khabar fi ayyani al-
Arab wa al- Ajam wa al- Barbar wa man Asarahun min Dzami as-Asulthan al-Akbar. Seluruh
bangunan ilmunya dalam kitab al- Muqaddimah memaparkan tentang ilmu
sosial, kebudayaan, dan sejarah. Sementara cakupan kitab al- Ibar merupakan bukti empiris-historis dari teori
yang dikembangkannya. Orisinalitas dan kedalaman pemikirannya, telah berhasil meletakkan karyanya al-
Muqaddimah sebagai sebuah karya besar yang unik dan melampaui zamannya.[9]
D.
Prinsip-prinsip dalam Proses Belajar Mengajar
Ibnu
Kaldun telah melatakkan prinsip-prinsip proses belajar mengajar sebagai sesuatu
hal yang sangat mendasar dalam mengerjakan ilmu pengetahuan kepada siswa.
Prinsip-prinsip tersebut secara garis besarnya meliputi beberapa hal sebagai
berikut :
1.
Adanya penahapan dan pengulangan secara berproses, yang harus
disesuaikan dengan kemampuan siswa dan tema yang di ajarkan secara bersamaan.
2.
Tidak membebani pikiran siswa.
3.
Tidak pindah dari satu materi yang lain sebelum siswa memahaminya
secara utuh.
4.
Sering mengulang dan mempelajarinya kembali
5.
Tidak bertindak keras kepada siswa.
Demikaianlah
prinsip-prinsip proses dasar belajar mengajar yang dikemukaan Ibnu
Kaldun. Pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Ibnu Kaldun sungguh sangat
brilian, dan pada saat tokoh-tokoh lain belum sampai pada kajian ini, beliau
dengan sangat yakin menjelsakan pemikirannya.[10]
E.
Analisa
Nama lengkap
dari Ibn Kaldun adalah Abdullah al- Rahman Zayd Muhammad Ibn Kaldun ini adalah
seorang muslim yang bisa dikatakan dalam pemikirannya yang lebih kepada
kemajuan. Ibnu Kaldun adalah seorang tokoh yang menaruh perhatian yang besar
terhadap pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakannya nampak sangat
dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus
dididik, dalam rangka melaksanakan fungsi sosialnya di tengah-tengah
masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar dapat hidup
bermasyarakat dengan baik.
Ibnu Kaldun
mengatakan bahwa daam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan, manusia di
samping harus sungguh-sungguh juga harus memiliki bakat. Menurutnya, dalam
mencapai pengetahuan yang bermacam-macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan
ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam suatu bidang
ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
Ibnu Kaldun menganjurkan agar para guru mengajarkan ilmu agar para
guru mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak ddik dengan metode yang baik dan
mengetahui faedah yang dipergunakannanya. Ibnu
Kaldun juga menganjurkan agar pendidik bersikap sopan dan halus pada muridnya.
Jika keadaan memaksa harus memukul si anak, maka pukulan tersebut tidak boleh
lebih dari tiga kali.
PENUTUP
Pengertian tujuan pendidikan secara lebih
luas dikemukakan oleh Syaibani. Menurutnya, yang dimaksud tujuan pendidikan
adalah perubahan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik
pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan
masyarakat dan alam sekitar tempat individu itu hidup atau pada proses
pendidikan dan pengajaran, sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi
diantara profesi-profesi asasi masyarakat. Menurut Ibn Khaldun, tujuan
pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal.
Ibnu Khaldun membuat klasifikasi ilmu dan
menerangkan pokok-pokok bahasannya bagi peserta didik. Ia menyusun kurikulum
yang sesuai sebagai salah satu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan.
Hal ini dilakukan, karena kurikulum dan sistem pendidikan yang tidak selaras
dengan akal dan kejiwaan peserta didik, akan menjadikan mereka enggan dan malas
belajar. Ketenaran Kaldun sebagai ilmuan dapat dilihat dari karya
monumentalnya, al-Muqaddimah. Kitab
al- Muqaddimah memaparkan tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah.
Prinsip-prinsip tersebut secara garis besarnya meliputi beberapa
hal sebagai berikut :
1.
Adanya penahapan dan pengulangan secara berproses, yang harus
disesuaikan dengan kemampuan siswa dan tema yang di ajarkan secara bersamaan.
2.
Tidak membebani pikiran siswa.
3.
Tidak pindah dari satu materi yang lain sebelum siswa memahaminya
secara utuh.
4.
Sering mengulang dan mempelajarinya kembali
5.
Tidak bertindak keras kepada siswa.
DAFTAR PUSTAKA
Hasyim,
Hafidz. 2012. Watak Peradaban Dalam Epistemologi Ibnu Khaldun. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
Kurniawan,
Syamsul dan Erwin Mahrus. 2013. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam.
Jogjakarta: AR-RUZZMEDI
Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta,
Logos Wacana Ilmu.
Nizar,
Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan
Praktis. Jakarta: Ciputat Pres.
Ramayulis
dan Samsul Nizar. 2005. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: PT.
Ciputat press group.
Sholehuddin, Sugeng. 2010. Reinventing Kepemimpinan Dalam Pendidikan
Islam. Pekalongan: STAIN Pekalongan.
[1] Sugeng Sholehuddin, Reinventing Kepemimpinan Dalam Pendidikan
Islam (Pekalongan: STAIN Pekalongan, 2010), hlm. 72.
[2] Hafidz Hasyim, Watak Peradaban Dalam Epistemologi Ibnu Khaldun,
cet. 1 (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 41.
[3]Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzzmedia, 2013), hlm. 100-102.
[6] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan
Islam (Jakarta: PT. Ciputat press group, 2005), hlm. 22-24.
[7] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, cet. 1 (Jakarta, Logos
Wacana Ilmu, 1997), hlm. 175-176.
[8] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op,. cit, hlm. 27-28.
[9] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis,
Teoritis dan Praktis, cet. 1 ( Jakarta: Ciputat Pres,
2002), hlm. 92-93.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar