Minggu, 22 Maret 2015

Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun
Disusun guna memenuhi tugas :
                                    Mata kuliah            : Studi Tokoh Pendidikan Islam

                                    Dosen pengampu   : Moch. Iskarim, M.S.I






Disusun oleh:
Ani Musiani
2021 111 181

PRODI PAI
JURUSAN TARBIYAH
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN) PEKALONGAN
2014


BAB I
PENDAHULUAN

Jika kita berbicara tentang Ibnu Khaldun, beliau adalah seorang sejarahwan sosiologi yang banyak dikagumi oleh kalangan intelektual yang cinta akan ilmu pengetahuan baik dunia bagian Timur maupun Barat. Hal ini disebabkan pemikiran-pemikiran Ibnu Khaldun yang banyak tertuang dalam buku karangannya Muqaddimah, buku pengantar sejarah yang sangat terkenal dan fenomenal. Dari masa Ibnu Khaldun sampai pada saat ini pemikiran beliau masih sangat relevan digunakan.
Dalam buku Muqaddimah ini selain memperkenalkan kepada kita tentang pribadi Ibnu Khaldun, pemikiran tentang sosial, sarjana dan ‘ulama, diplomat dan politikus dengan pengalaman-pengalaman di istana sampai ke markas militer di Afrika Utara dan Spanyol, kita juga diperkenalkan tentang pemikiran Ibnu Khaldun tentang pendidikan.
Walaupun keadaan lingkungan ketika Ibnu Khaldun lahir tidak stabil, akan tetapi hal itu tidak menjadi penghambat bagi Ibnu Khaldun untuk terus belajar dengan kerja keras. Sehingga sampai saat ini pemikirannya sangat populer digunakan golongan intelektual di belahan dunia. Selain Muqadimah, masih banyak buah karya yang ditulis oleh Ibnu Khaldun. Serta pemikiran pendidikan Ibnu Khaldun yang masih relevan digunakan sampai saat ini.
Untuk itu makalah ini akan membahas tentang biografi Ibnu Khaldun, pemikiran Ibnu Khaldun, dan karya-karya Ibnu Khaldun.








BAB II
PEMBAHASAN
A.      Biografi Ibnu Khaldun
Nama asli Ibnu Khaldun adalah Wali ad din Abu Zaid Abdurrahman bin Muhammad Ibnu Khaldun al Hadrami al Idhbili, yang disingkat Ibnu Khaldun. Ia lahir di Tunisia pada tanggal 27 Mei 1332 M/ 1 Ramadhan 732 H dan wafatnya di Kairo 25 Ramadhan/ 19 Maret 1406 M. N.J Dawood menyebutkan sebagai negarawan, ahli hukum, sejarahwan, dan sarjana.[1]
Ibnu Khaldun memiliki banyak gelar yang melekat pada namanya sebagai bentuk prestasi dan kekuasaan yang pernah diraih dan digelutinya, seperti Waliudin, al-Maliki, al-Rais, al-Hajib, al-Sadrul al-Kabir, al-Faqih al-Jalil, ‘Allamat al-Ummah, Imam al-Aimmah, Jamlaul al-Islam wal Muslimin.
Nama Ibnu Khaldun dihubungkan dengan garis kakeknya yang kesembilan yaitu Khalid bin Usman. Khalid adalah orang pertama yang masuk Andalusia bersama para penakhluk berkebangsaan Arab. Ia lebih dikenal dengan Ibnu Khaldun berhubungan dengan kebiasaan orang Andalusia untuk menambahkan huruf waw dan nun di belakang nama-nama orang terkemuka sebagai bentuk penghormatan. [2]
Ayahnya bernama Abu Abdullah Muhammad. Ia berkecimpung dalam bidang politik, kemudian mengundurkan diri dari bidang politik serta menekuni ilmu pengetahuan dan kesufian (Abd Al-Rahman Ibn Khaldun, jilid I, t.th.: 10-11). Ia ahli dalam bahasa dan sastra Arab. Ia meninggal pada 794 H/ 1384 M akibat wabah pes yang melanda Afrika Utara dengan meninggalkan lima orang anak. Ketika ayahnya meninggal, Ibn Khaldun  baru usia 18 tahun. Selanjutnya pada 1362 Ibn menyeberang ke Spanyol dan bekerja pada Raja Granada. Di Granada, ia menjadi utusan raja untuk berunding dengan Pedro (Raja Granada) dan Raja Castilla di Sevilla. Karena kecakapannya yang luar biasa, ia ditawari pula bekerja oleh penguasa Kristen saat itu. Sebagai imblannya, tanah-tanah bekas milik keluarganya dikembalikan kepadanya. Akan tetapi, dari tawaran-tawaran yang ada, ia akhirnya memiliki tawaran untuk bekerja sama dengan Raja Granada. Ke sanalah ia memboyong keluarganya dari Afrika. Ia tidak lama tinggal di Granada. Ia selanjutnya kembali ke Afrika dan diangkat menjadi perdana menteri oleh Sultan Aljazair. Ketika antara tahun 1362-1375 terjadi pergolakan politik, Ibn Khaldun terpaksa mengembara ke Maroko dan Spanyol.
Ibnu Khaldun adalah seorang yang sejak kecil haus akan ilmu pengetahuan, selalu tidak puas dengan ilmu yang diperolehnya, sehingga memungkinkan beliau mempunyai banyak guru. Tidak heran jika beliau termasuk orang yang pandai dalam ilmu Islam, tidak saja dalam bidang  agama, tetapi juga  bidang-bidang umum, seperti sejarah, ekonomi, sosiologi, antropologi dan lain-lainnya.
Ibnu Khaldun mengawali pendidikannya dengan membaca al-Qur’an, Hadits, Fiqih, Sastra, Nahwu shorof, pada sarjana-sarjana terkenal pada waktu itu. Tunisia pada waktu itu merupakan pusat ulama dan sastrawan di daerah Maghrib. Dan umur 20 tahun ia bekerja sebagai sekretaris Sultan Fez di Maroko. Akan tetapi, setelah Tunisia dan sebagian besar kota-kota di Masyriq dan Maghrib di landa wabah pes yang dahsyat pada tahun 749 H, mengakibatkan ia tidak dapat melanjutkan studinya. Bahkan dalam peristiwa tersebut ia kehilangan orang tuanya dan beberapa orang pendidiknya, dengan kondisi yang demikian, pada tahun 1362 M ia pindah ke Spanyol.
Di antara pendidiknya Ibnu Khaldun yang terkenal adalah Abu Abdullah Muhammad Ibnu Saad Ibn Burall an Asyari. Darinya, ia belajar al-Qur’an dan qiraat al-sab’ah selain itu, gurunya yang lain adalah Syaikh Abu Abdullah Ibn al-Arabi al-Hasayiri, Muhammad al-Syawwas al-Zarazli, Ahmad Ibn al- Qassar, Syaikh Syamsudin Abu Abdullah Muhammad al-Wasdisyasyi (belajar ilmu hadits, bahasa arab, fiqih), dan Abdullah Muhammad Ibn Abd al-Salam (belajar kitab al-Muwattha’ karya Imam Malik), Muhammad Ibn Sulaiman al-Satti abd al- Muhaimin al-Hadrami dan Muhammad Ibn Ibrahim al-Abili (belajar ilmu-ilmu pasti, logika, dan seluruh ilmu/ teknik kebijakan dan pengajaran disamping dua ilmu pokok, al-Qur’an dan hadits. Diantara sekian banyak pendidik tempat Ibn Khaldun menimba ilmu, ada dua orang yang dianggap paling berharga terhadapnya, yaitu Syaikh Muhammad Ibn Ibrahim al-Abili dalam ilmu-ilmu filsafat dan Syaikh Abdil Muhaimin Ibn al-Hadrami dalam ilmu-ilmu agama dari kedua pendidik tersebut, ia mempelajari kitab-kitab hadits seperti al-Kutub al sittah dan al- muwattha’). [3]

B.       Pemikiran Pendidikan Ibnu Khaldun
1.        Tujuan Pendidikan
Tujuan pendidikan adalah batas akhir yang dicita-citakan yang akan dicapai melalui suatu usaha pendidikan (Salim dan Erwin Mahrus, 2006:36). Pengertian tujuan pendidikan secara lebih luas dikemukakan oleh Syaibani. Menurutnya, yang dimaksud tujuan pendidikan adalah perubahan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar tempat individu itu hidup atau pada proses pendidikan dan pengajaran, sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi masyarakat. Menurut Ibnu Khaldun, tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal. Diantara tujuan pendidikan tersebut adalah sebagai berikut:

a)    Tujuan peningkatan pemikiran
            Ibn Khaldun memandang bahwa salah satu tujuan pendidikan adalah memberikan kesempatan kepada akal untuk lebih giat dan melakukan aktifitas. Hal ini dapat dilakukan melalui proses menuntut ilmu dan keterampilan. Dengan menuntut ilmu dan keterampilan, seseorang akan dapat meningkatkan kegiatan potensi akalnya. Disamping itu, melalui potensinya, akan mendorong manusia untuk memperoleh dan melestarikan pengetahuan. Atas dasar pemikiran tersebut, tujuan pendidikan menurut Ibn Khaldun adalah peningkatan kecerdasan manusia dan kemampuannya berfikir. Dengan kemampuan tersebut, manusia akan dapat meningkatkan pengetahuannya dengan cara memperoleh lebih banyak warisan pengetahuan pada saat belajar.

b)    Tujuan peningkatan kemasyarakatan
Dari segi peningkatan kemasyaraktan, Ibn khaldun berpendapat bahwa
Ilmu dan pengajaran adalah lumrah bagi peradaban manusia. Ilmu dan pengajaran sangat diperlukan untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat manusia ke arah yang lebih baik.[4] Semakin dinamis suatu masyarakat, semakin bertemu dan dinamis pula keterampilan masyarakat tersebut. Untuk itu manusia, seyogyanya senantiasa berusaha memperoleh ilmu dan keterampilan sebanyak mungkin sebagai salah satu cara membantunya untuk dapat hidup dengan baik dalam masyarakat yang dinamis dan berbudaya. Jadi eksistensi pendidikan menurutnya merupakan satu sarana  yang dapat membantu individu dan masyarakat menuju kemajuan dan kecemerlangan.

c)    Tujuan pendidikan dari segi kerohanian
Tujuan pendidikan dari segi keruhanian adalah dengan meningkatakan keruhanian manusia dengan menjalankan praktik ibadat, dzikir, menyendiri, dan mengasingkan diri dari khalayak ramai sedapat mungkin untuk tujuan ibadah sebagaimana yang dilakukan oleh para sufi.[5]

2.         Kurikulum Pendidikan dan Klasifikasi Ilmu
Ibnu Khaldun membuat klasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-pokok bahasannya bagi peserta didik. Ia menyusun kurikulum yang sesuai sebagai salah satu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini dilakukan, karena kurikulum dan sistem pendidikan yang tidak selaras dengan akal dan kejiwaan peserta didik, akan menjadikan mereka enggan dan malas belajar.[6] Berkenaan dengan hal tersebut, Ibn Khaldun membagi ilmu menjadi 3 macam, yaitu:
a.    Kelompok ilmu lisan (bahasa): ilmu tentang tata bahasa (gramatika), sastra atau bahasa yang tersusun secara puitis (syair).
b.    Kelompok ilmu naqli: ilmu yang diambil dari kitab suci dan sunnah Nabi. Ilmu ini berupa menbaca kitab suci al-Qur’an dan tafsirnya, sanad dan hadist tang pentashihannya serta istimmbat tentang kaida-kaidah fiqih. Denga ilmu ini manusia akan dapat mengetahui hukum-hukum Allah yang diwajibkan kepada manusia. Dari al-Qur’an itulah akan didapati ilmu-ilmu tafsir, ilmu hadist, ilmu ushul fiqih, yang dapat dipakai untuk menganalisa hukum-hukum Allah itu melalui cara istimbat.
c.    Kelompok ilmu aqli: ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui berfikir atau kecerdasannya kepada filsafat dan semua ilmu pengetahuan. Termasuk di dalam kategori ilmu ini adalah ilmu aqli. Ilmu aqli yaitu ilmu-ilmu yang diperoleh manusia melalui kemampuan untuk berfikir. Proses peolehan tersebut dilakukan melaui panca indra dan akal, seperti Ilmu logika ( Mantiq), Ilmu alam, ilmu ketuhanan, ilmu-ilmu teknik, ilmu hitung, ilmu tingkah laku (Behavior) manusia, termasuk juga ilmu sihir dan ilmu nujum (perbintangan).[7]



3.    Sifat-sifat pendidik
Seorang pendidik akan berhasil dalam tugasnya apabila memiliki sifat-sifat yang mendukung profesionalismenya. Sifat-sifat tersebut diantaranya :
a.    Pendidik hendaknya lemah lembut, senantiasa menjauhi sifat kasar, dan menjauhi hukuman yang merusak fisik dan psikis peserta didik, apalagi terhadap anak-anak kecil.
b.    Pendidik hendaknya menjadikan dirinya sebagai teladan bagi peserta didik.
c.    Pendidik hendaknya memperhatikan kondisi peserta didik dalam memberikan pelajaran sehingga metode dan materi dapat disesuaikan secara profesional
d.   Pendidik hendaknya mengisi waktu luang dengan aktivitas yang berguna.
e.    Pendidik harus profesional dan mempunyai wawasan yang luas tentang peserta didik, terutama yang berkaitan dengan pertumbuhan dan perkembangan jiwanya, serta kesiapan untuk menerima pelajaran.[8]

C.      Karya-karya Ibnu Khaldun
Ketenaran Kaldun sebagai ilmuan dapat dilihat dari jkarya monumentalnya, al-Muqaddimah. Kitab ini sesungguhnya merupakan pengantar bagi karya universalnya yang berjudul Kitab al- Ibar wa Diwan al- Mubtada’ wa al- Khabar fi ayyani al- Arab wa al- Ajam wa al- Barbar wa man Asarahun min Dzami as-Asulthan al-Akbar. Seluruh bangunan ilmunya dalam kitab al- Muqaddimah memaparkan tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah. Sementara cakupan kitab al- Ibar  merupakan bukti empiris-historis dari teori yang dikembangkannya. Orisinalitas dan kedalaman pemikirannya,  telah berhasil meletakkan karyanya al- Muqaddimah sebagai sebuah karya besar yang unik dan melampaui zamannya.[9]
D.      Prinsip-prinsip dalam Proses Belajar Mengajar
Ibnu Kaldun telah melatakkan prinsip-prinsip proses belajar mengajar sebagai sesuatu hal yang sangat mendasar dalam mengerjakan ilmu pengetahuan kepada siswa. Prinsip-prinsip tersebut secara garis besarnya meliputi beberapa hal sebagai berikut :
1.    Adanya penahapan dan pengulangan secara berproses, yang harus disesuaikan dengan kemampuan siswa dan tema yang di ajarkan secara bersamaan.
2.    Tidak membebani pikiran siswa.
3.    Tidak pindah dari satu materi yang lain sebelum siswa memahaminya secara utuh.
4.    Sering mengulang dan mempelajarinya kembali
5.    Tidak bertindak keras kepada siswa.
Demikaianlah prinsip-prinsip proses dasar belajar mengajar yang dikemukaan Ibnu Kaldun. Pokok-pokok pikiran yang dikemukakan Ibnu Kaldun sungguh sangat brilian, dan pada saat tokoh-tokoh lain belum sampai pada kajian ini, beliau dengan sangat yakin menjelsakan pemikirannya.[10]
E.       Analisa
Nama lengkap dari Ibn Kaldun adalah Abdullah al- Rahman Zayd Muhammad Ibn Kaldun ini adalah seorang muslim yang bisa dikatakan dalam pemikirannya yang lebih kepada kemajuan. Ibnu Kaldun adalah seorang tokoh yang menaruh perhatian yang besar terhadap pendidikan. Konsep pendidikan yang dikemukakannya nampak sangat dipengaruhi oleh pandangannya terhadap manusia sebagai makhluk yang harus dididik, dalam rangka melaksanakan fungsi sosialnya di tengah-tengah masyarakat. Pendidikan adalah alat untuk membantu seseorang agar dapat hidup bermasyarakat dengan baik.
Ibnu Kaldun mengatakan bahwa daam proses belajar atau menuntut ilmu pengetahuan, manusia di samping harus sungguh-sungguh juga harus memiliki bakat. Menurutnya, dalam mencapai pengetahuan yang bermacam-macam itu seseorang tidak hanya membutuhkan ketekunan, tetapi juga bakat. Berhasilnya suatu keahlian dalam suatu bidang ilmu atau disiplin memerlukan pengajaran.
Ibnu Kaldun menganjurkan agar para guru mengajarkan ilmu agar para guru mengajarkan ilmu pengetahuan kepada anak ddik dengan metode yang baik dan mengetahui faedah yang dipergunakannanya. Ibnu Kaldun juga menganjurkan agar pendidik bersikap sopan dan halus pada muridnya. Jika keadaan memaksa harus memukul si anak, maka pukulan tersebut tidak boleh lebih dari tiga kali.


PENUTUP

  Pengertian tujuan pendidikan secara lebih luas dikemukakan oleh Syaibani. Menurutnya, yang dimaksud tujuan pendidikan adalah perubahan yang diinginkan yang diusahakan oleh proses pendidikan, baik pada tingkah laku individu dan pada kehidupan pribadinya, atau pada kehidupan masyarakat dan alam sekitar tempat individu itu hidup atau pada proses pendidikan dan pengajaran, sebagai suatu aktivitas asasi dan sebagai profesi diantara profesi-profesi asasi masyarakat. Menurut Ibn Khaldun, tujuan pendidikan beraneka ragam dan bersifat universal.
     Ibnu Khaldun membuat klasifikasi ilmu dan menerangkan pokok-pokok bahasannya bagi peserta didik. Ia menyusun kurikulum yang sesuai sebagai salah satu sarana untuk mencapai tujuan-tujuan pendidikan. Hal ini dilakukan, karena kurikulum dan sistem pendidikan yang tidak selaras dengan akal dan kejiwaan peserta didik, akan menjadikan mereka enggan dan malas belajar. Ketenaran Kaldun sebagai ilmuan dapat dilihat dari karya monumentalnya, al-Muqaddimah. Kitab al- Muqaddimah memaparkan tentang ilmu sosial, kebudayaan, dan sejarah.
Prinsip-prinsip tersebut secara garis besarnya meliputi beberapa hal sebagai berikut :
1.      Adanya penahapan dan pengulangan secara berproses, yang harus disesuaikan dengan kemampuan siswa dan tema yang di ajarkan secara bersamaan.
2.    Tidak membebani pikiran siswa.
3.    Tidak pindah dari satu materi yang lain sebelum siswa memahaminya secara utuh.
4.    Sering mengulang dan mempelajarinya kembali
5.    Tidak bertindak keras kepada siswa.





DAFTAR PUSTAKA

Hasyim, Hafidz. 2012. Watak Peradaban Dalam Epistemologi Ibnu Khaldun. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Kurniawan, Syamsul dan Erwin Mahrus. 2013. Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam. Jogjakarta: AR-RUZZMEDI                    
Nata, Abudin. 1997. Filsafat Pendidikan Islam. Jakarta, Logos Wacana Ilmu.

Nizar, Samsul. 2002. Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis. Jakarta: Ciputat Pres.
Ramayulis dan Samsul Nizar. 2005. Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam. Jakarta: PT. Ciputat press group.
Sholehuddin, Sugeng. 2010.  Reinventing Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam. Pekalongan: STAIN Pekalongan.





[1] Sugeng Sholehuddin, Reinventing Kepemimpinan Dalam Pendidikan Islam  (Pekalongan: STAIN Pekalongan, 2010),  hlm. 72.
[2] Hafidz Hasyim, Watak Peradaban Dalam Epistemologi Ibnu Khaldun, cet. 1  (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2012), hlm. 41.
[3]Syamsul Kurniawan dan Erwin Mahrus, Jejak Pemikiran Tokoh Pendidikan Islam (Jogjakarta: Ar-Ruzzmedia, 2013), hlm. 100-102.
[4] Ibid., hlm. 120-103.
[5]  Ibid., hlm. 104.
[6] Ramayulis dan Samsul Nizar, Ensiklopedi Tokoh Pendidikan Islam (Jakarta: PT. Ciputat press group, 2005), hlm. 22-24.
[7] Abudin Nata, Filsafat Pendidikan Islam, cet. 1 (Jakarta, Logos Wacana Ilmu, 1997), hlm. 175-176.
[8] Ramayulis dan Samsul Nizar, Op,. cit, hlm. 27-28.
[9] Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis, cet. 1  ( Jakarta: Ciputat Pres, 2002), hlm. 92-93.
[10] Loc,. Cit. hlm. 109-112.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar