PENGORGANISASIAN
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah : Manajemen Pendidikan
Dosen Pengampu : Turno,
M.Pd
![]() |
Disusun
Oleh :
Ani
Musiani
2021111181
TARBIYAH PAI
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI (STAIN )
PEKALONGAN
2013
BAB I
PENDAHULUAN
Penempatan fungsi
pengorganisasian setelah fungsi perencanaan merupakan hal yang logis karena
tindakan pengorganisasian menjembatani kegiatan perencanaan dengan
pelaksanaannya. Oleh karena itu, tidak mengherankan apabila beberapa ahli
manajemen menempatkan fungsi pengngorganisasian setelah fungsi perencanaan.
Suatu rencana yang telah tersusun secara matang dan ditetapkan berdasarkan
perhitungan-perhitungan tertentu, tentunya tidak dengan sendirinya mendekatkan
organisasi pada tujuan yang hendak dicapainya. Untuk merealisir suatu rencana kearah tujuan yang telah
ditetapkan, ia memerlukan pengaturan-pengatiran yang tidak saja menyangkut
wadah dimana kegiatan-kegiatan itu dilaksanakan, namun juga aturan main yang
harus ditaati oleh setiap seorang dalam organisasi dalam bekerja sama mencapai
tujuan organisasi.
Dengan kata lain. Tanpa
organisasi mustahil suatu rencana dapat mencapai tujuan, tanpa pengorganisasian
para pelaksana tidak memiliki pedoman kerja yang jelas dan tegas sehingga
pemborosan dan tumpang tindih akan mewarnai pelaksanaan suatu rencana yang
akibatnya adalah kegagalan dalam mencapai.
BAB
II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Pengorganisasian
Pengorganisasian dalam bahasa inggris disebut Organizing dalam arti yang sempit adalah
sebagai lembaga, kelompok fungsional, misal perusahaan, sekolah, perkumpulan,
badan-badan pemerintah. Dalam arti luas, diartikan sebagai suatu proses
pengorganisasian yaitu bagaimana pekerjaan itu diatur dan dialokasikan bagi
para anggota, sehingga tujuan organisasi itu dapat tercapai secara efektif.
Hicks &
Gullett (1981)
mengatakan bahwa pengorgansasian adalah kegiatan membagi-bagi tugas, tanggug
jawab, dan wewenangdiantara sekelompok orang untuk mencapai tujuan yang
ditetapkan.
Gardon, Mondy, Sharplin, dan Preameaux, (1990) mengatakan bahwa
pengorganisasian dapat diartikan sebagai proses menetapkan hubungan formal
diantara orang-orang dan sumber-sumber ke arah pencapaian tujuan. Sedanagkan
menurut Piece I dan Robison (1989)
pengorganisasian adalahproses menentukan hubungan-hubungan yang esensial di
antara orang-orang, tugas-tugas, dan aktivitas-aktivitas, dengan cara
mengintergasikan dan mengkoordinasikan semua sumber organisasi ke arah
pencapaiaan suatu tujuan secara efektif dan efisien.
Dari uraian diatas, dapat diketahui bahwa
pengorganisasian adalah proses penentuan, pengelopokan, dan penyusunan
macam-macam kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan, penempatan
orang-orang (staff) pada kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor yang
cocok bagi lingkungan (keperluan kerja) dan penunjukan hubungan wewenang yan
didelegasikan terhadap setiap orang yang berhubungan dengan pelaksanaan setiap
kegiatan yang diharapkan.
Ciri-ciri
organisasi meliputi :
1. Organisasi
sebagai suatu sistem, yaitu adanya seperangkat unsur yang saling berhubungan
antara yang satu dengan yang lainnya.
2. Organisasi
meripakan struktur, adanya suatu kadar formalitas dan pembagian tugas dan
tanggung jawab yang harus dijalankan oleh anggota kelompok.
3.
Adanya
perencanaan yang dilakukan secara sadar berdasarkan rasionalitas dan
pedoman-pedoman yang jelas.
4. Adanya
koordinasi dan kooperasi yang baik diantara orang-orang yang bekerja sama,
menunjukan tindakan-tindakan orang-orang tersebut berjalan ke arah suatu
tanggung jawab tertentu.
B.
Unsur-unsur
Organisasian
Menurut Koontz
& O’donnel (1980) organisasi adalah pembnaan hbungan, wewenang, dan
dimaksudkan untuk mencapai koordinasi yang struktural, baik secara vertikal
maupun secara horizontaldi antara posisi-posisi yang telah disertai tugas-tugas
khusus yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan. Jadi, oganisasi adalah hubungan
struktural yang mengikat/menyatukan unsur-unsur sebagai berikut :
1. Manusia
berupa unsur manusia yang bekerjasama; ada pimpinan dan ada yang dipimpin, dan
terusnya.
2. Sasaran,
yakni tujuan yang ingin dicapai
3. Tempat
kedudukan di mana manusia memainkan peran, wewenang dan tugasnya.
4. Pekerjaan
yang berwewenang sesuai dengan peran dan keudukannya yang disusun dalam
pembagian tugas
5. Teknologi,
yakni berupa hubungan antara manusia yang satu dengan yang lain sehingga
tercipta organisasi.
6. Lingkungan
, yakn adanya lingkungan yang saling mempengaruhi, misalnya ada sistem kerja
sama.
C.
Prinsip-prinsip
Pengorganisasian
Prinsip-prinsip
pengorganisasian adalah kebenaran-kebenaran yang menjadi pegangan atau pedoman
dalam melekukan tindangan pengorganisasian. Hal ini perlu dilakukan agar
kesalahan-kesalahan dapat diminimalisasi dan jga agar kesalahan yang dilakukan
pada masa lampau tidak terulang lagi.
Siagian (1990)
menyebutkan bahwa ada lima belas prinsip organisasi :
1. Kejelasan
tujuan yang ingin dicapai
2. Pemahaman
tujuan oleh para anggota organisasi
3. Penerimaan
tujuan oleh para anggota organisasi
4. Adanya
kesatuan arah
5. Kesatuan
perintah
6. Fungsionalisasi
7. Deleniasi
berbagai tugas
8. Keseibangan
antara wewenang dan tanggung jawab
9. Pembagian
tugas
10. Kesederhanaan
struktu
11. Pola
dasar organisasi yang relatif permanen
12. Adanya
pola pendelegasian wewenang
13. Rentang
pengawasan
14. Jaminan
pekerjaan
15. Keseimbangan
antara jasa dan imbalan.[1]
Prinsip-prinsip
pengorganisasian menurut Roco Carzo terdiri dari :
1.Kebermaknaan,
berarti memberi gambaran bahwa pengorganisasian itu memiliki daya guna dan
hasil guna yang tinggi terhadap pelaksanaan kegiatan yang ditetapkan dalam
rencana dan terhadap pencapaian tujuan yang telah ditentukan.
2.
Keluwesan, memberi peluang untuk terjadinya perubahan , seperti pengembangan
atau modifikasi dalam organisasi pada saat kegiatan sedang berlangsung.
Perubahan itu mungkin terjadi sebagai akibat dan adanya perubahan tuntutan,
masalah dan kebutuhan baru yang datang dari dalam dan dari luar organisasi pada
saat pelaksanaan kegiatan.
3.
Kedinamisan, menjadi acuan bagi setiap orang dalam organisasi untuk
mengembangkan kreativitas dalam melaksanakan tugas pekerjan, dalam melekukan
dan menjalin hubungan resmi dan hubungan tidak resmi, juga kedinamisan terhadap
gejala perubahan yang terdapat dalam lingkungan.[2]
D.
Proses
Organisasi
Proses
organisasi dalam suatu perusahaan dan lembaga pendidikan adalah meliputi
pembatasan dan penjumlahan tugas-tugas, pengelompokkan dan pengklasifikasian
tugas-tugas, serta pendelegasian wewenang diantara personil/karyawan
perusahaan.
Tahap-tahap/langkah-langkah manajemen dalm membentuk
kegiatan pada proses pengorganisasian sendiri meliputi :
a. Sasaran,
manajer harus mengetahui mengetahui tujuan organisasi yang ingin dicapai.
b. Penentuan
kegiatan-kegitan, artinya manajer harus mengetahui, merumuskan dan
menspesifikasikan kegiatan-kegiatan yang diperlukan untuk mencapai tujuan
organisasi dan menyusun daftar kegiatan-kegiatan yang diperlukan yang akan
dilakukan.
c. Pengelompokkan
kegiatan-kegiatan, artiny manajer harus mengelompokkan kegiatan-kegiatan dalam
bberapa kelompok atas dasar tujuan yang sama, kegiatan-kagiatan yang bersama
serta berkaitan yang terdapat dalam satu unit kerja/satu departemen.
d. Pendelegasian
wewenang, artinya manajer garus menetaokan besarnya wewenang yang akan
didelegasikan kepada setiap departemen.
e. Ruang
kendali, artinya manajer harus menetapkan jumlah personil pada setiap
departemen.
f. Perincian
peranan perorganisasian, artinya manajer harus menetapkan tugas-tugas
perorangan.
g. Tipe
organisasi, artinya manajer harus menetapkan tipe organisasi , apa yang akan
dicapai, apakah line and staff
organization atau function
organization.
h. Bagan
organisasi, artinya manajer/organisator harus manetapkan bagan/struktur
organisasi yang bagaimana yang akan dipergunakan.[3]
Ernes
Dale
memberikan pengertian sebagai sebuah proses yang berlangkah jamak. Proses
pengorganisasian itu digambarkan melalui tahapan sebagai berikut :
·
Tahap
pertama untuk pemerincian pekerjaan adalah menentukan
tugas-tugas apa yang akan diberikan kepada anggota organisasi dalam rangka
mencapai tujuan.
·
Tahap
kedua, pembagian pekerjaan dengan cara membagi seluruh
beban kerja memjadi kegiatan-kegiatan yang dapat dilaksanakan oleh perseorangan
atau kelompok. Dan harus diperhatikan bahwa orang-orang yang diserahi pekerjaan
harus benar-benar orang yang memiliki kwalifikasi, tidak terlalu berat dan
tidak terlalu ringan beban yang diberikan kepada para anggota organisasi.
·
Tahap
ketiga, menggabungkan pekerjaan para anggota organisasi
dengan cara yang rasional dan efisien. Penggabungan pekerjaan ini juga biasa
disebut sebagai departementalisasi.
·
Tahap
keempat, menetapkan mekanisme kerja untuk mengkoordinasikan
pekerjaan dalam satu kesatuan pekerjaan yan harmonis.
·
Tahap
kelima, melakukan monitoring dan mengambil langkah-langkah
penyesuaian untuk mempertahankan dan meningkatkan efektifitas. Karena
organisasi membutuhkan kesinambungan langkah yang terprogram/berkala, maka
perlu ada evaluasi ataupun monitoring secara terus-menerus.[4]
E.
Teori
organisasi
Terdapat
dua pendekatan yang diajukan untuk memandang organisasi :
1. Pendekatan
klasik yang berdasarkan pada teori mesin
Pendekatan ini sangat
memperhatikan pembagian kerja spesialisasi dan standar dalam mendesain
organisasi, sehingga organisasi yang dibentuk dapat efektif dan efisien untuk
mencapai tujuan. Efektif dan efisien artinta semua unsur manajemen berdaya guna
dan berhasil guna. Pokok utama dari teori mesin ini adalah konsep spesialisasi
tugas.
2. Pendekatan
yang berdasarkan pada hubungan manusiawi.
Pendekatan hubungan
antarmanusia menekankan pentingnya memperhiyungkan aspek manusia secara utuh
dalam merancang suatu struktur organisasi. Salah satu dari hasil penelitian ini
adalah harapan para psikologi dan soiolog untuk dapat merumuskan kedaan-keadaan tertentu yang membentuk
timbulnya kerja sama dalam mencapai tujuan organisasi.
Organisasi bukanlah
suatu sistem tertutup, tetapi harus berinteraksi dengan lingkungan. Organisasi
adalah suatu sistem terbuka dan karena itu disamping mencakup proses produksi
juga proses-proses lain yang bersifat hakiki untuk mempertahankan
eksistensinya, ia mesti menopang fungsi-fungsinya dan menyesuaikan diri dengan
lingkungannya. [5]
F.
Stuktur
Organisasi
Menurut E Kast
dan James E Roseinzweig, Mengartikan
struktur organisasi sebagai pola hubungan komponen atau bagian suatu
organisasi. Struktur merupakan sistem formal hubungan kerja yang membagi dan
mengkoordinasikan tugas orang dan kelompok agar tercapai.
Menurut Dale
berpendapat bahwa struktur adalah mekanisme organisasi. Pada stuktur ditentukan
apa yang harus dikerjakan oleh setiap personalia organisasi dan disini pula
akan tampak pekerjaan-pekerjaan yang bisa digabungkan dibawah satu pimpinan.
Johson mengatakan
struktur adalah hubungan beberapa fungsi atau aktifitas dalam suatu organisasi.
Johson menekankan pada hubungan
beberapa pekerjaan, pekerjaan yang berhubungan ini ada kesamaannya dengan
pembentukkan unit-unit kerja.
Dengan demikian struktur organisasi adalah mkanisme
kerja organisasi yang menggambarkan unit-unit kerjanya dengan tugas-tugas
individu di dalamnya beserta kerja samanya dengan individu-individu lain dan
hubungan antara unit-unit kerja itu baik secara vertikal maupun horizontal.
Simon,
mengatakan bahwa struktur memiliki sifat-sifat : stabil, statis dan berubah
lambat atau memerlukan waktu untuk penyesuaian-peyesuaian. Stuktur organisasi
akan berubah pada saat organisasi tersebut mengalami perubahan akibat dari
berkembangnya anggota oerganisasi sesuai dengan kebutuhan organisasi.
Made pidarta menyebut
struktur yang stabil dengan istilah mantap. Stuktur yang mantap adalah stuktur
organisasi yang bisa bertahan lama dan dapat mendukung pencapaian tujuan
organisasi secara sukses.
Struktur
atau mekanisme kerja yang mantap memiliki ciri-ciri :
1.Bersifat
fleksibel.
2.Tidak
mudah berubah oleh pengaruh perubahan lingkungan.
3.Dinamis
akibat penyesuaian dengan tuntutan lingkungan pada deskripsi tugasnya.
4.Para
petugas taat akan kewajibannya, penuh dengan rasa tanggung jawab dan mampu mengontrol
diri sendiri.
5.Ad
kerja sama yan terpadu dengan subsistem-subsistem manajemen yang lain dalam
usaha tujuan organisasi.
Sruktur organisasi menurut Nanang Fatah, akan menggambarkan :
1. Posisi
kerja,
2. Pembagian
kerja,
3. Jenis
pekerjaan yang harus dilakukan,
4. Hubungan
antara atasan dan bawahan,
5. Kelompok,
komponen, bagian,
6. Tingkat
manajemen
7. Dan
saluran komunikasi
G.
Tipe-tipe
Organisasi
Secara
garis besar ada dua :
1. Tipe
organik atau Tipe perilaku
Tipe yang
menitikberatkan pada koordinasi semua tugas dan menekankan pada loyalitas
setiap pelaksana. Memiliki ciri keterbukaan, berorientas pada pemecahan
masalah, cepat menyesuaikan diri terhadap keadaan, bercorak kemasyarakatan,
luwes dan adanya hubungan informal.
2. Tipe
mekanisme atau tipe klasik
Memiliki ciri tertutup,
terprogram, rutin, statis, bersifat teknis, kaku, dan ketatnya hubungan secara
formal.
Kedua tipe tersebut
memiliki perbedaan dalam mekansme tugas dan tanggung jawab setiap orang yang
terlibat dalam organisasi.
Menurut Flippo, ada empat bentuk organisasi :
1. Organisasi
lini
2. Organisasi
lini dan staff
3. Organisasi
Fungsional
4. Organisasi
proyek
H. Hubungan dalam
Organisasi
Hubungan dalam organisasi menunjukkan kaitan antara
tanggung jawab, wewenang dan pelaporan atau akuntabilitas. Akuntabilitas adalah
keharusan mempertanggung jawabkan pelaksanaan tugas yang mengacu kepada sasaran
yang ingin dicapai oleh organisasi. Bentuk-bentuk hubungan dalam organisasi
pada umumnya dan organisasi pendidikan pada khususna sangat banyak dan
bervariasi. Dalam organisasi sekolah yang besar, hubungan-hubungan itu secara
garis besar mencakup aspek sasaran, fungsi atau perangkat tugas, tanggung
jawab, wewenang, dan akuntabilitasnya.
-
Hubungan Garis :
adalah hubungan antar unsur dalam organisasi pendidikan yang menunjukkan garis
perintah dari atas ke bawah.
-
Hubungan Staff :
yaitu hubungan antar unsur dalam organisasi pendidikan yang menunjukkan
penguasaan untuk membantu kegiatan unsur lain dalam bidamg pekerjan tertentu.
-
Hubungan
Konsultatif : adalah hubungan antara unsur yang berada dalam organisasi dengan
kedudukan setara.
-
Hubungan
Koordinatif : yaitu merupakan pola hubungan yang menunjukkan hubungan antara
unit dalam organisasi bertujuan mensinkronkan, saling mendukung, supaya searah
dan tidak tumpang tindih.
I.
Pendelegasian
wewenang
Delegasi menurut Manullang
berarti kegiatan seorangmanajer untuk menugaskan bawahannya mengerjakan
sebagian dari tugas manajer. Delegasi dapat didefinisikan sebagai sebagai
pelimpahan wewenang formal dan tanggung jawab kepada seseorang atas pelaksanaan
aktivitas tertentu. Tujuan utama pendelegasian adalah agar organisasi dapat
menggunakan sumber dayanya secara efisien.
Proses delegasi terdapat tiga unsur yaitu : tugas,
kekuasaan, dan pertanggungjawaban. Pada tahap awal, seorang manajer memberi
tugas dan kekuasaan kepada bawahan. Tugas adalah pekerjaan-pekerjaan yang harus
dilakukan oleh seseorang dalam jembatan tertentu. Sedang kekuasaan adalah hak
atau wewenang untuk memutuskan segala seuatu yang berhubungan dengan fungsinya.
Tahap kedua bawahan yang menerima tugas dan kekuasaan dari manajer meleksanakan
tugas dengan mempergunakan kekuasaan yang diterimanya. Beberapa unsur yang
menjadi dasar pemberian tanggung jawab antara lain :
1. Spesifikasi
tugas
2. Kesamaan
fungsi
3. Rentang
manajemen
J.
Pengorganisasian
di Lingkungan Penidikan
1. Organisasi
Sekolah
Sekolah menurut Weingartner merupakan yang spesifik dari
seperangkat fungsi-fungsi yang mendasar dalam melayani masyarakat.
2. Fungsi
Sekolah
Selanjutnya Syaiful Sagala menjelaskan bahwa fungsi
sekolah adalah meneruskan, mempertahankan, dan mengembangkan kebudayaan
masyarakat melalui pembentukan kepribadian anak-anak agar menjadi manusia
dewasa dari sudut usia maupun intelektualnya, secara terampil dan bertanggungjawab
sebagai upaya mempersiapkan generasi pngganti yang mampu mempertahankan
eksistensi kelompok atau masyarakat bangsanya dengan budaya yang mendukungnya.
3. Faktor-faktor
Penentu Kerja Sekolah
Bahwa untuk mencapai
tujuan utama pendidikan adalah untuk meneruskan kebudayaan kepada generasi muda
melalui proses sosialisasi. Sedangkan tujuan utama sekolah adalah menjamin
kompetensi minimal dan keterampilan dan pemahaman yang telah detentukan bagi
semua anak.
Untuk mencapai tujuan tersebut, ada sejumlah faktor yang
menjadi penentu kinerja sekolah. Keberhasilan kinerja sekolah tersebut dapat
dilihat melalui beberapa indikator, yaitu :
a. Manajemen
kurikulum yang lugas dan fleksibel
b. Proses
belajar mengajar yang efektif
c. Lingkungan
sekolah yang sehat
d. SDM
dan sumber daya lain yang handal
e. Standarisasi
pengajaran dan evaluasi hasil belajar
4. Efektivitas
Organisasi Sekolah
Keefektifan organisasi
(secara umum) adala konsep yang sangat luas mencakup sejumlah komponen-komponen
konsep :
a. Jangka
pendek, seperti produksi, efisiensi dan kepuasan.
b. Jangka
menengah, seperti menyrsuaikan diri terhadap lingkungan, pengembangan serta
pertumbuhan.
c. Jangka
panjang, yaitu bagaimana organisasi tersebut dapat bertahan hidup.
Sedangkan keefektifan
sekolah menurut Salter dan Teddie yaitu :
a. Ketetapan
administrasi.
b. Kesiapan
guru.
c. Kesiapan
siswa.
Jaap
Scheerens mengatakan
bahwa output yang memiliki kwalitas tidak akan lepas dari kondisi sekolah yang
efektif yang memiliki indikator sebagai berikut :
a. Kepemimpina
pendidikan yang kuat.
b. Penekanan
pada perolehan keterampilan dasar.
c. Lingkungan
yang rapi dan aman.
d.
Harapan
pencapaian murid yang tinggi.
e. Penilaian
tentang kemajuan murid.
5. Kerkteristik
organisasi sekolah yang efektif
Karakteristik pada
tingkat sekolah yang efektif berkaitan erat dengan manajemen sekolah,
kepemimpinan, komitmen, konsistensi tujuan dengan progra dan target sekolah,
lingkungan strategis, internal maupun eksternal, haraan, iklim, sekolah dan
peran pemerintah.[6]
BAB III
KESIMPULAN
Pengorganisasian adalah
proses penentuan, pengelopokan, dan penyusunan macam-macam kegiatan yang
diperlukan untuk mencapai tujuan, penempatan orang-orang (staff) pada
kegiatan-kegiatan ini, penyediaan faktor-faktor yang cocok bagi lingkungan
(keperluan kerja) dan penunjukan hubungan wewenang yan didelegasikan terhadap
setiap orang yang berhubungan dengan pelaksanaan setiap kegiatan yang
diharapkan.
Ciri-ciri organisasi
meliputi :Organisasi sebagai suatu sistem,Organisasi meripakan struktur, Adanya
perencanaan yang dilakukan secara sadar berdasarkan rasionalitas dan
pedoman-pedoman yang jelas.
1. Prisip-prinsip
pengorganisasian menurut Roco Carzo: Kebermaknaan,
Keluwesan, Kedinamisan, Proses organisasi dalam suatu perusahaan dan lembaga
pendidikan adalah meliputi pembatasan dan penjumlahan tugas-tugas,
pengelompokkan dan pengklasifikasian tugas-tugas, serta pendelegasian wewenang
diantara peronil/karyawan perusahaan. Struktur organisasi adalah mkanisme kerja
organisasi yang menggambarkan unit-unit kerjanya dengan tugas-tugas individu di
dalamnya beserta kerja samanya dengan individu-individu lain dan hubungan
antara unit-unit kerja itu baik secara vertikal maupun horizontal. Tipe- tipe
organisasi : Tipe organik atau Tipe perilaku dan Tipe mekanisme atau tipe klasik
DAFTAR PUSTAKA
Marno dan Supriyatno, Triyo. 2008. Manajemen dan Kepemimpinan Pendidikan Islam.
Bandung: PT. Refika Aditama.
Yusuf,
Musfirotun. 2009. Manajemen Pendidikan. Pekalongan
: STAIN Pekalongan Press.
[1] Marno
&Triyo Supriyatno, Manajemen Kepemimpinan Pendidikan
Islam, (Bandung
: PT. Refika Aditama, 2008), hlm. 16-18.
[2]
Musfirotun Yusuf, Manajemen
Pendidikan (Pekalongan : Gama Media
Yogyakarta, 2009), hlm. 42.
[3] Marno
&Triyo Supriyatno, op.cit,
hlm. 18-19.
[4] Marno &Triyo Supriyatno, op.cit, hlm. 42-43.
[5] Ibid., hlm.19-20.
[6]
Musfirotun Yusuf, op.cit, hlm. 43-62.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar