TEORI
HUMANISTIK ARTHUR COMBS,
MASLOW DAN ROGERS
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
Mata Kuliah :
Psikologi Pendidikan
Dosen
Pengampu : Atiyatul Maula M. Psi
![]() |
Disusun Oleh:
Ani Musiani
2021 111 181
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN ) PEKALONGAN
2013
BAB
I
PENDAHULUAN
Teori-teori
belajar sejauh ini menekankan peranan lingkungan dan faktor-faktor kognitif
dalam proses belajar mengajar. Walaupun teori ini secara jelas menunjukkan
bahwa belajar dipengaruhi oleh bagaimana siswa-siswa berfikir dan bertindak,
teori-teori tersebut juga jelas-jelas dipengaruhi dan diarahkan oleh arti
pribadi dan perasaan-perasaan yang mereka ambil dari pengalaman belajar mereka.
Dalam bab ini
kita akan ditinjau psikologi humanistik dan pengaruhnya pada ilmu pendidikan
dan penerapannya. Dalam bab ini, kita akan melihat bagaimana tujuan pendidikan
humanistik digabung dalam sejumlah alternatif pendekatan pengajaran (pendidikan
terbuka, pendidikan tatap muka, dan belajar bekerja sama).
Pendekatan-pendekatan ini walaupun berbeda, pada umumnya mempunyai pandangan
yang ideal yang lebih manusiawi, pribadi yang berpusat pada siswa yang berusaha
keras sebagai penolakan terhadap pendidikan tradisional yang lebih berpusat
pada guru. Untuk lebih mendalami prinsip-prinsip psikologi humanistik dan
bagaimana menerapkannya dalam proses belajar, marilah kita meninjau pandangan ketiga pencetus teori ini, yaitu
Arthur Combs, Abraham H.Maslow, dan R. Rogers.
BAB
II
PEMBAHASAN
Ahli-ahli teori humanistik menunjukkan bahwa:
1. Tingkah laku
individu pada mulanya ditentukan oleh bagaimana mereka merasakan dirinya
sendiri dan dunia sekitarnya
2. Individu
bukanlah satu-satunya hasil dari lingkungan mereka seperti yang dikatakan oleh
ahli teori tingkah laku, melainkan langsung dari dalam (internal), bebas
memilih, dimotivasi oleh keinginan untuk aktualisasi diri atau memenuhi potensi
keunikan mereka sebagai manusia
Dari perspektif Humanistik, pendidik seharusnya memperhatikan pendidikan
lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang siswa. Kebutuhan afektif ialah
kebutuhan yang berhubungan dengan emosi, persaaan, nilai, sikap, dan moral.
Kebutuhan-kebutuhan ini diuraikan oleh Combs sebagai tujuan pendidikan humanistik,
yaitu:
1. Menerima
kebutuhan-kebutuhan dan tujuann siswa serta menciptakan pengalaman dan program
untuk perkembangan keuinikan potensi siswa
2.
Memudahkan aktualisasi diri siswa dan perasaan diri
mampu
3.
Memperkuat perolehan ketrampilan dasar (akademik,
pribadi, antarpribadi, komunikasi, dan ekonomi)
4. Mengembangkan
suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti, mendukung, menyenangkan,
serta bebas dari ancaman
Ada beberapa tokoh yang menonjol dalam
aliran humanistik diantaranya:
A. Arthur Combs
Combs
dan kawan-kawan menyatakan bahwa apabila kita ingin memahami perilaku orang
kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita ingin
mengubah keyakinan atau pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang membedakan
seseorang dari yang lain. Combs dan kawan-kawan selanjutnya mengatakan bahwa
perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang
untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Apabila
seorang guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan
sesuatu, ini sesungguhnya berarti bahwa siswa itu tidak mempunyai motivasi
untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu. Apabila guru itu
memberikan aktivitas yang lain, mungkin sekali siswa akan memberikan reaksi yang
positif.[1]
Ahli
psikologi menyatakan bahwa untuk mengubah tingkah laku seseorang harus mengubah
persepsi individu. Combs menyatakan bahwa tingkah laku menyimpang adalah
“akibat yang tidak ingin dilakukan, tetapi dia tahu bahwa dia harus melakukan”.[2]
B. Maslow
Teori
didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal:
a. Suatu usaha yang positif untuk
berkembang
b. Kekuatan untuk melawan atau menolak
perkembangan itu.
Pada
diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut
untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut
membayangkan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tetapi mendorong untuk
maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke
arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat
menerima diri sendiri.[3]
Maslow
berpendapat bahwa ada hierarki kebutuhan manusia sehubungan dengan motivasi
yang dikelompokkan menjadi 5 tingkat yaitu:
1) Kebutuhan fisiologis, misalnya kebutuhan
makan, minum, udara, air dll
2) Kebutuhan rasa aman, misalnya tempat
tinggal, pakaian, perlindungan, dll
3) Kebutuhan kasih sayang, misalnya rasa
disayangi, rasa diterima, dan dibutuhkan orang lain
4) Kebutuhan rasa harga diri, misalnya
mendapat penghargaan atas apa-apa yang dilakukan
5) Kebutuhan aktualisasi diri, misalnya
ilmuwan menemukan teori yang berguna bagi kehidupan[4]
Kebutuhan untuk tingkat yang paling
rendah yaitu tingkat untuk bisa survive
atau mempertahankan hidup dan rasa aman, dan ini adalah kebutuhan yang paling
penting Hierarki kebutuhan manusia menurut maslow ini mempunyai implikasi yang
penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia
mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau
kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.
C. Rogers
Melalui
bukunya Freedom to Learn and Freedom to
Learn for the 80’s menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistik
yang penting diantaranya adalah:
1) Keinginan untuk belajar
Rogers percaya bahwa
manusia secara wajar mempunyai keinginan untuk belajar. Keinginan ini dapat
mudah dilihat dengan memperhatikan keingintahuan yang sangat dari seorang anak
ketika dia menjelajahi lingkungannya.
2) Belajar secara signifikan
Rogers telah
mengidentifikasikan bahwa belajar secara signifikan terjadi ketika belajar
dirasakan relevan terhadap kebutuhan dan tujuan siswa.
3) Belajar tanpa ancaman
Menurut Rogers bahwa
belajar yang paling baik adalah memperoleh dan menguasai suatu lingkungan yang
bebas dari ancaman.
4) Belajar atas inisiatif sendiri
Belajar akan paling
signifikan dan meresap ketika belajar itu atas inisiatifnya sendiri, dan ketika
belajar melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar sendiri. Belajar atas
inisiatif sendiri juga mengajar siswa untuk mandiri dan percaya diri. Ketika
siswa belajar atas inisiatifnya, mereka mempunyai kesempatan untuk membuat
pertimbangan, pemilihan, dan penilaian.
5) Belajar dan berubah
Rogers telah
mengidentifikasi bahwa belajar yang paling bermanfaat adalah belajar tentang
proses belajar. Apa yang dibutuhkan sekarang, menurut Rogers, adalah individu
yang mampu belajar dalam lingkungan yang berubah yaitu keterbukaan yang terus
menerus terhadap pengalaman dan penyatuaannya kedalam dirinya sendiri mengenain
proses perubahan hidup.[5]
Psikologi
Humanistik dan Pengajaran
1. Pendidikan setara
Goerge Brown (1971)
mengembangkan pusat pendidkan Humanistik di Universitas California, Santa
Barbara, di mana guru belajar mengintegrasikan pengalaman afektif dengan
belajar kognitif di kelas. Brown menyebut ini sebagai proses pendidkan setara.
Ini cara yang menarik untuk melibatkan diri siswa dalam mata pelajaran.
Contoh dari pendidikan
setara adalah pengajaran bahasa Inggris pada siswa umur 12 tahun tentang buku
yang berjudul Red Badge of Courage.
Guru yang ingin mengembangkan latihan ini, ingin siswanya tidak hanya
mendapatkan pengertian yang lebih dalam tentang novel itu, tetapi juga
memperoleh keasadaran antar pribadi yang lebih besar dengan mendiskusikan
konsep tentang keberanian, keteguhan hati, dan ketakutan mereka sendiri.
2. Pendidikan terbuka
Hasil penelitian dari
program pendidikan terbuka (Peterson, 1979; Giaconia & Hedges, 1982), pada
umumnya menunjukkan bahwa pendekatan ini sedikit lebih efektif daripada
pendidikan tradisional dalam memperbaiki afektif, tetapi bukan hasil akademik.
Dalam peninjauan sejumlah besar studi perbandingan pendidikan terbuka dan kelas
tradisional, Giaconia dan Hedges menemukan bahwa kelas terbuka lebih sukses
dalam memperbaiki kerja sama, kreativitas, prestasi motivasi, dan mandiri.
Tetapi, dalam prestasi akademik kelas tradisional lebih superior.[6]
BAB
III
PENUTUP
Dari
penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan sistem pendidikan
humanistik merupakan pengembangan martabat manusia yang bebas membuat pilihan
dan berkeyakinan. Perbedaan yang menonjol dalam pendidikan humanistik:
1. Peranan guru yang lebih banyak menjadi
pembimbing daripada pemberi ilmu pengetahuan kepada siswa
2. Menitikberatkan pada upaya membantu
siswa agar dapat mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan
kekhususan yang ada pada dirinya.
DAFTAR
PUSTAKA
Dalyono, M. 2001. Psikologi
Pendidikan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2001
Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo
Mulyasa. 2003. Kurukilum Berbasis Kompetensi Konsep
Karakteristik dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
[1] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Asdi
Mahasatya, 2001), hlm. 44-45.
[2] Sri Esti
Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta:
PT Grasindo, 2002), hlm. 183
[3] M. Dalyono, Op., cit, hlm. 46
[4]Mulyasa,
Kurukilum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik dan Implementasi (Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 112-113
[5] Sri Esti
Wuryani Djiwandono, Op., cit, hlm. 183-186
[6] Ibid.,
hlm. 187-188

Tidak ada komentar:
Posting Komentar