Sabtu, 21 Maret 2015

TEORI HUMANISTIK ARTHUR COMBS,
 MASLOW DAN ROGERS
                                                                 
MAKALAH
Disusun Guna Memenuhi Tugas
 Mata Kuliah               :  Psikologi Pendidikan
                                      Dosen Pengampu      : Atiyatul Maula M. Psi
 








Disusun Oleh:
Ani Musiani
2021 111 181
SEKOLAH TINGGI AGAMA ISLAM NEGERI
(STAIN ) PEKALONGAN
2013


BAB I
PENDAHULUAN

Teori-teori belajar sejauh ini menekankan peranan lingkungan dan faktor-faktor kognitif dalam proses belajar mengajar. Walaupun teori ini secara jelas menunjukkan bahwa belajar dipengaruhi oleh bagaimana siswa-siswa berfikir dan bertindak, teori-teori tersebut juga jelas-jelas dipengaruhi dan diarahkan oleh arti pribadi dan perasaan-perasaan yang mereka ambil dari pengalaman belajar mereka.
Dalam bab ini kita akan ditinjau psikologi humanistik dan pengaruhnya pada ilmu pendidikan dan penerapannya. Dalam bab ini, kita akan melihat bagaimana tujuan pendidikan humanistik digabung dalam sejumlah alternatif pendekatan pengajaran (pendidikan terbuka, pendidikan tatap muka, dan belajar bekerja sama). Pendekatan-pendekatan ini walaupun berbeda, pada umumnya mempunyai pandangan yang ideal yang lebih manusiawi, pribadi yang berpusat pada siswa yang berusaha keras sebagai penolakan terhadap pendidikan tradisional yang lebih berpusat pada guru. Untuk lebih mendalami prinsip-prinsip psikologi humanistik dan bagaimana menerapkannya dalam proses belajar, marilah kita meninjau  pandangan ketiga pencetus teori ini, yaitu Arthur Combs, Abraham H.Maslow, dan R. Rogers.



BAB II
PEMBAHASAN

Ahli-ahli teori humanistik menunjukkan bahwa:
1.      Tingkah laku individu pada mulanya ditentukan oleh bagaimana mereka merasakan dirinya sendiri dan dunia sekitarnya
2.      Individu bukanlah satu-satunya hasil dari lingkungan mereka seperti yang dikatakan oleh ahli teori tingkah laku, melainkan langsung dari dalam (internal), bebas memilih, dimotivasi oleh keinginan untuk aktualisasi diri atau memenuhi potensi keunikan mereka sebagai manusia
Dari perspektif Humanistik, pendidik seharusnya memperhatikan pendidikan lebih responsif terhadap kebutuhan kasih sayang siswa. Kebutuhan afektif ialah kebutuhan yang berhubungan dengan emosi, persaaan, nilai, sikap, dan moral. Kebutuhan-kebutuhan ini diuraikan oleh Combs sebagai tujuan pendidikan humanistik, yaitu:
1.      Menerima kebutuhan-kebutuhan dan tujuann siswa serta menciptakan pengalaman dan program untuk perkembangan keuinikan potensi siswa
2.      Memudahkan aktualisasi diri siswa dan perasaan diri mampu
3.      Memperkuat perolehan ketrampilan dasar (akademik, pribadi, antarpribadi, komunikasi, dan ekonomi)
4.      Mengembangkan suasana belajar yang menantang dan bisa dimengerti, mendukung, menyenangkan, serta bebas dari ancaman
Ada beberapa tokoh yang menonjol dalam aliran humanistik diantaranya:
A.    Arthur Combs
Combs dan kawan-kawan menyatakan bahwa apabila kita ingin memahami perilaku orang kita harus mencoba memahami dunia persepsi orang itu. Apabila kita ingin mengubah keyakinan atau pandangan orang itu, perilaku dalamlah yang membedakan seseorang dari yang lain. Combs dan kawan-kawan selanjutnya mengatakan bahwa perilaku buruk itu sesungguhnya tak lain hanyalah dari ketidakmauan seseorang untuk melakukan sesuatu yang tidak akan memberikan kepuasan baginya. Apabila seorang guru mengeluh bahwa siswanya tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu, ini sesungguhnya berarti bahwa siswa itu tidak mempunyai motivasi untuk melakukan sesuatu yang dikehendaki oleh guru itu. Apabila guru itu memberikan aktivitas yang lain, mungkin sekali siswa akan memberikan reaksi yang positif.[1]
Ahli psikologi menyatakan bahwa untuk mengubah tingkah laku seseorang harus mengubah persepsi individu. Combs menyatakan bahwa tingkah laku menyimpang adalah “akibat yang tidak ingin dilakukan, tetapi dia tahu bahwa dia harus melakukan”.[2]

B.     Maslow
Teori didasarkan atas asumsi bahwa di dalam diri kita ada dua hal:
a.       Suatu usaha yang positif untuk berkembang
b.      Kekuatan untuk melawan atau menolak perkembangan itu.
Pada diri masing-masing orang mempunyai berbagai perasaan takut seperti rasa takut untuk berusaha atau berkembang, takut untuk mengambil kesempatan, takut membayangkan apa yang sudah ia miliki dan sebagainya. Tetapi mendorong untuk maju ke arah keutuhan, keunikan diri, ke arah berfungsinya semua kemampuan, ke arah kepercayaan diri menghadapi dunia luar dan pada saat itu juga ia dapat menerima diri sendiri.[3]
Maslow berpendapat bahwa ada hierarki kebutuhan manusia sehubungan dengan motivasi yang dikelompokkan menjadi 5 tingkat yaitu:
1)      Kebutuhan fisiologis, misalnya kebutuhan makan, minum, udara, air dll
2)      Kebutuhan rasa aman, misalnya tempat tinggal, pakaian, perlindungan, dll
3)      Kebutuhan kasih sayang, misalnya rasa disayangi, rasa diterima, dan dibutuhkan orang lain
4)      Kebutuhan rasa harga diri, misalnya mendapat penghargaan atas apa-apa yang dilakukan
5)      Kebutuhan aktualisasi diri, misalnya ilmuwan menemukan teori yang berguna bagi kehidupan[4]
Kebutuhan untuk tingkat yang paling rendah yaitu tingkat untuk bisa survive atau mempertahankan hidup dan rasa aman, dan ini adalah kebutuhan yang paling penting Hierarki kebutuhan manusia menurut maslow ini mempunyai implikasi yang penting yang harus diperhatikan oleh guru pada waktu ia mengajar anak-anak. Ia mengatakan bahwa perhatian dan motivasi belajar tidak mungkin berkembang kalau kebutuhan dasar si siswa belum terpenuhi.

C.    Rogers
Melalui bukunya Freedom to Learn and Freedom to Learn for the 80’s menunjukkan sejumlah prinsip-prinsip belajar humanistik yang penting diantaranya adalah:
1)      Keinginan untuk belajar
Rogers percaya bahwa manusia secara wajar mempunyai keinginan untuk belajar. Keinginan ini dapat mudah dilihat dengan memperhatikan keingintahuan yang sangat dari seorang anak ketika dia menjelajahi lingkungannya.
2)      Belajar secara signifikan
Rogers telah mengidentifikasikan bahwa belajar secara signifikan terjadi ketika belajar dirasakan relevan terhadap kebutuhan dan tujuan siswa.
3)      Belajar tanpa ancaman
Menurut Rogers bahwa belajar yang paling baik adalah memperoleh dan menguasai suatu lingkungan yang bebas dari ancaman.
4)      Belajar atas inisiatif sendiri
Belajar akan paling signifikan dan meresap ketika belajar itu atas inisiatifnya sendiri, dan ketika belajar melibatkan perasaan dan pikiran si pelajar sendiri. Belajar atas inisiatif sendiri juga mengajar siswa untuk mandiri dan percaya diri. Ketika siswa belajar atas inisiatifnya, mereka mempunyai kesempatan untuk membuat pertimbangan, pemilihan, dan penilaian.
5)      Belajar dan berubah
Rogers telah mengidentifikasi bahwa belajar yang paling bermanfaat adalah belajar tentang proses belajar. Apa yang dibutuhkan sekarang, menurut Rogers, adalah individu yang mampu belajar dalam lingkungan yang berubah yaitu keterbukaan yang terus menerus terhadap pengalaman dan penyatuaannya kedalam dirinya sendiri mengenain proses perubahan hidup.[5]

Psikologi Humanistik dan Pengajaran
1.      Pendidikan setara
Goerge Brown (1971) mengembangkan pusat pendidkan Humanistik di Universitas California, Santa Barbara, di mana guru belajar mengintegrasikan pengalaman afektif dengan belajar kognitif di kelas. Brown menyebut ini sebagai proses pendidkan setara. Ini cara yang menarik untuk melibatkan diri siswa dalam mata pelajaran.
Contoh dari pendidikan setara adalah pengajaran bahasa Inggris pada siswa umur 12 tahun tentang buku yang berjudul Red Badge of Courage. Guru yang ingin mengembangkan latihan ini, ingin siswanya tidak hanya mendapatkan pengertian yang lebih dalam tentang novel itu, tetapi juga memperoleh keasadaran antar pribadi yang lebih besar dengan mendiskusikan konsep tentang keberanian, keteguhan hati, dan ketakutan mereka sendiri.
2.      Pendidikan terbuka
Hasil penelitian dari program pendidikan terbuka (Peterson, 1979; Giaconia & Hedges, 1982), pada umumnya menunjukkan bahwa pendekatan ini sedikit lebih efektif daripada pendidikan tradisional dalam memperbaiki afektif, tetapi bukan hasil akademik. Dalam peninjauan sejumlah besar studi perbandingan pendidikan terbuka dan kelas tradisional, Giaconia dan Hedges menemukan bahwa kelas terbuka lebih sukses dalam memperbaiki kerja sama, kreativitas, prestasi motivasi, dan mandiri. Tetapi, dalam prestasi akademik kelas tradisional lebih superior.[6]



BAB III
PENUTUP

Dari penjelasan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa pendekatan sistem pendidikan humanistik merupakan pengembangan martabat manusia yang bebas membuat pilihan dan berkeyakinan. Perbedaan yang menonjol dalam pendidikan humanistik:
1.      Peranan guru yang lebih banyak menjadi pembimbing daripada pemberi ilmu pengetahuan kepada siswa
2.      Menitikberatkan pada upaya membantu siswa agar dapat mencapai perwujudan dirinya sesuai dengan kemampuan dasar dan kekhususan yang ada pada dirinya.



DAFTAR PUSTAKA

Dalyono, M. 2001. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2001

Djiwandono, Sri Esti Wuryani. 2002. Psikologi Pendidikan. Jakarta: PT Grasindo

Mulyasa. 2003. Kurukilum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik dan Implementasi. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.




[1] M. Dalyono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Asdi Mahasatya, 2001), hlm. 44-45.
[2] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Psikologi Pendidikan (Jakarta: PT Grasindo, 2002), hlm. 183
[3] M. Dalyono, Op., cit, hlm. 46
[4]Mulyasa, Kurukilum Berbasis Kompetensi Konsep Karakteristik dan Implementasi (Bandung: PT Remaja Rosdakarya, 2003), hlm. 112-113
[5] Sri Esti Wuryani Djiwandono, Op., cit, hlm. 183-186
[6] Ibid., hlm. 187-188

Tidak ada komentar:

Posting Komentar